Shares

Pagi tadi seperti biasa bangun pagi tepat waktu pk.05.30 walaupun sehabis melakukan perjalanan jauh dari Bandung tak menyurutkan semangat untuk jogging pagi ini bareng Ciox.

Sekaligus ingin sekali mencari info tentang ibu penjual susu langgananku,senyum indahnya yang selalu membuatku semangat setelah mengetahui beban yang dideritanya yang diceritakan rekan sesama pedagang di depan gerai waralaba.

Setelah membasuh muka dan berganti pakaian joggingku yang berwarna pink pada hari ini,segera kuambil perlengkapan kecil lainnya dan mengajak Ciox keluar rumah tepat pk 06.00.

Mendung tipis terlihat pagi ini,walau mendung tetap semangat yaaaa jalani awal pekan apalagi setelah beberapa hari ini berlibur,terlihat Ciox juga menikmati jogging pada hari ini.

Baru di ujung jalan dekat tempat mba Bella,hp berdering ternyata panggilan dari no si ibu yang kemarin menceritakan tentang ibu penjual susu tersebut.

Setelah kuangkat baru kutahu ternyata kalau ibu tersebut udah tau rumah si ibu tersebut,akhirnya di ujung jalan ini segera potong kompas menuju arah gerai waralaba tersebut,ga melalui rute biasanya.

Karena ingin segera berjumpa dengan ibu tersebut,langkahku ku percepat terlihat dari Ciox yang mulai mengejarku dari belakang.

Tak butuh waktu lama karena potong kompas,15mnt telah tiba di tempat tsb akhirnya ngobrol2 dengan si ibu ini yang ternyata anak perempuannya yang akan mengantarkanku menuju rumah si ibu penjual susu tersebut.

Dengan di bonceng sepeda motor akhirnya diriku menuju rumahnya,sementara Ciox aku titipkan sama si ibu tersebut dan akan di ambik oleh mba Indah yang segera ku kirim pesan singkat.

Sebentar aja untuk sampe di rumah ibu ini,ga sampe 30mnt perasaanku tiba di tempat ini. Setelah kuberi sedikit uang saku untuk sekolah akhirnya anak si ibu ini meninggalkanku di depan rumah ibu tersebut.

Kuketuk pintu dengan perasaan ga karuan,terdengar samar sahutan suara ibu tersebut dan betapa kagetnya dirinya setelah mengetahui diriku telah ada di depan pintu rumahnya.

Seakan tak percaya apa yang diliatnya,terbengong sesaat memastikan bahwa benar2 diriku yang saat ini ada di hadapannya.

Memecah keheningan kuulurkan tangan,untuk berjabat tangan dengannya yang beberapa hari ini menghantui pikiranku sebagai langganan setianya setiap pagi.

Dari perkenalan singkat kutahu nama ibu ini Retno,dan akhirnya diriku dipersilahkan masuk sambil ngobrol2 dengannya,seakan tak percaya bahwa aku mau mengunjunginya di pagi yang mendung ini.

Beliau banyak bercerita tentang getirnya hidup selama di sini,mungkin terlihat sangat pas2 an bahkan kurang menurutku tapi keluarga ini pandai bersyukur saat kuliat anak perempuannya selesai beribadah.

Suami ibu Retno telah lama pulang ke kampung asalnya karena sakit stroke,Ibu Retno umuran 48 sedangkan suaminya 51 tahun keluarga ini mempunyai 2 orang anak yang pertama meninggal karena sakit,dan yang bungsu baru lulus sekolah.

Secangkir teh buatan anak ibu Retno kunikmati sambil bercerita dengan beliau,banyak sekali pelajaran hidup dan kesabaran yang dapat dari keluarga.

Tak terasa cukup lama hampir 2 jam bercerita di tempat ini baru sadar telah siang saat di pamiti anak bungsunya yang akan berangkat kerja,baru kutahu dari ibu Retno ternyata anaknya masih training selama 3 bln ini.

Mungkin akan kupikirkan ke depannya tentang anak ini bila ingin bekerja di tempatku nantinya,itung2 bantu ibu Retno melalui anak ini.

Karena semakin siang diriku sengaja minta jemput anak kantor untuk mengantarkanku kembali pulang ke rumah untuk melanjutkan aktifitas.

Kupegang tangan ibu Retno untuk menguatkan dirinya yang sedang sakit selama beberapa hari ini,dan tak lupa pula amplop yang telah kusiapkan dari kemarin untuk sedikit meringankan bebannya.

Dan tampak sekali rasa sungkan yang sangat dari ibu Retno sampe sedikit memaksa diriku,karena aku niat membantu ibu ini bahkan sengaja kutinggalkan no tlp pada ibu Retno bila anakknya ada perlu2 apa atau mau ke kantorku.

Seperti senang sekali ibu Retno sampe memelukku,pelukan dari seorang ibu yang kukangeni dari mending mamak ku dulu,kuberpesan pada ibu Retno supaya tabah dan sabar jalani ini semua.

Senyum ibu Retno terlihat saat diriku pamitan karena jemputan telah tiba,ucapan tulus sekali lagi kudengar saat berpamitan padanya.

Yang sabar ibuu.

Mom of two, jogging enthusiast